• Selasa, 5 Juli 2022

Konsep Awal Mula Kosmos, Tinjau dari Perspektif Immanuel Kant dan Piere Simon De Laplace

- Kamis, 23 Juni 2022 | 19:45 WIB
Jufrianus Kapitan  (Dokpri )
Jufrianus Kapitan (Dokpri )

Oleh: JURFRIANUS KAPITAN*

 

Pendahuluan

 Satu pertanyaan besar yang selalu melahirkan perdebatan yang panjang dan berbelit-belit dalam kalangan para filsuf ialah persoalan mengenai saat awal kosmos dan saat akhir kosmos. Pertanyaan itu dapat dirumuskan sebagai berikut.

Apakah alam semesta itu memiliki permulaan? Jika memiliki permulaan, apakah alam yang awal itu sesuatu yang bersifat material atau spiritual? Apakah yang awal itu berciri singular atau komunal? Apakah kosmos memiliki titik akhir? Apakah titik akhir itu suatu kehancuran atau kematian total untuk seluruh dimensi kosmos?

Secara ilmiah-filosofis persoalan-persoalan itu telah diperbincangkan oleh para ilmuwan dan para filsuf. Dalam sejarah pemikiran manusia dapat ditemukan ada beberapa pandangan yang berbeda-beda. Tidak sedikit filsuf atau ilmuwan yang meyakini bahwa alam semesta pada hakikatnya tidak pernah berawal dan berakhir. Dan juga sebaliknya, ada banyak filsuf dan ilmuwan yang mengajukan berbagai teori untuk membuktikan bahwa alam semesta mempunyai saat awal dan saat akhir.

Pada suatu masa tidak ada waktu sama sekali. Waktu hanyalah ukuran untuk perubahan posisi benda-benda alam raya, dan yang diketahui para ilmuwan, mistis, pada masa permulaan tidak ada benda di alam raya.    Misalnya, satu tahun adalah satu ukuran dari pergerakan bumi mengitari matahari. Satu hari adalah ulangan putaran bumi pada porosnya. Karena baik bumi maupun matahari ada dengan sendiri sejak awal.

 Kendatipun tiada materi, ruang dan waktu pada awalnya, sesuatu harus terjadi untuk membuat yang lainnya bermula. Dengan kata lain, sesuatu harus telah ada atau terjadi sebelum ada apa-apa. Artinya sebelum ada sesuatu dalam dunia kosmos harus ada sesuatu yang menjadikan semua itu ada. Oleh karena itu, untuk memperkuat gagasan bahwa kosmos ini memiliki saat awal atau awal mula terjadinya alam semesta. Maka sekurang-kurangnya ada tiga jawaban yaitu:

 Pertama, jawaban dari penganut tradisi lama dan agam-agama yang mempercayai bahwa alam semesta diciptakan oleh Tuhan kurang lebih 4000 SM. Perhitungan itu dilakukan oleh seorang Pendeta bernama Usser (abad XVII) dengan cara menjumlahkan usia tokoh dalam Perjanjian Lama.

Halaman:

Editor: Waldus Budiman

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Ruang dan Waktu Sebagai Fondasi Peradaban

Jumat, 1 Juli 2022 | 09:31 WIB

Konsep Kausalitas Perspektif David Hume

Kamis, 30 Juni 2022 | 13:22 WIB

Konsep Ruang dan Waktu dalam Sejarah

Kamis, 30 Juni 2022 | 08:33 WIB

Menelaah Teori Evolusi Charles Darwin

Rabu, 29 Juni 2022 | 20:15 WIB

Ruang dan Waktu dari Perspektif Immanuel Kant

Selasa, 28 Juni 2022 | 16:31 WIB

Teori Evolusi Perspektif Charles Darwin

Selasa, 28 Juni 2022 | 08:33 WIB

Ensensi Konsep Ruang dan Waktu Isaac Newton

Minggu, 26 Juni 2022 | 13:11 WIB

Memahami Teori Evolusi Perspektif Charles Darwin

Jumat, 24 Juni 2022 | 16:25 WIB

Prognosis Saat Akhir Kosmos

Kamis, 23 Juni 2022 | 13:37 WIB

Organisasi Mahasiswa dan Urgensi Kepemimpinan

Rabu, 22 Juni 2022 | 09:03 WIB

Kritik Atas Teori Darwinsme

Selasa, 21 Juni 2022 | 14:40 WIB
X