Yang Percaya di Patung ada Roh Memang bodoh, Sia-Sia dan Mendatangkan malu?

- Sabtu, 26 November 2022 | 17:35 WIB
Patung (Heinzt Helf)
Patung (Heinzt Helf)

OLEH : Agateus Ngala SVD

Refleksi Yesaya 44: 6-20 dan Tanggapan untuk Daniel Mananta

POSFLORES.COM | Dalam tulisan tentang berhala saya telah mengupas alasan alkitabiah, alasan biblis yang melarang dan membenarkan praktik penggunaan gambar dan patung sekaligus memaparkan sejarah panjang debat teologis dan pengaruh politis yang mendukung atau menolak penyembahan atau penghormatan terhadap Patung, Gambar Kudus.

Tinjauan Singkat Yesaya 44: 6-20

Buku Yesaya memiliki sejarah biblis yang begitu panjang. Para ahli Kitab Suci membagi buku ini dalam tiga bagian: Yesaya 1-39 (740-701), Deutero-Yesaya 40-45 (550-540) dan Trito-Yesaya 56-66 (530). Jadi buku ini ditulis antara tahun 740 sampai 530 sebelum Masehi, yang tentu ditulis oleh banyak penulis dari banyak angkatan.

Baca Juga: Kotbah Romo Emano: Gempa di Cianjur adalah Jawaban Tuhan untuk Daniel Mananta dan Ustad Somad

Konsentrasi kali ini adalah membahas Yesaya 44, yang berarti berasal dari Deutero-Yesaya antara tahun 550-540 SM. Berbeda dengan Yesaya bagian pertama, pasal 40-55 sudah mengandaikan malapetaka besar yang dialami bangsa Israel sudah terjadi. Deutero Yesaya menghadirkan program nyata untuk melakukan perubahan, restorasi besar dalam kehidupan seluruh bangsa Israel.

Oleh karena itu, pasal-pasal ini ditulis jauh setelahnya, yang mengandaikan situasi pembuangan dengan merujuk Koresh, raja Persia, yang mengalahkan dan mengakhiri kekuasaan Kaiser Babylonia (Babel), kekaiseran yang telah menghancurkan Yerusalem.

Baca Juga: Jangan Cemas! Kamu akan berhasil Bahagia dan Sukses, Zodiak 27 November 2022

Pasal 40-45 menggambarkan harapan besar bahwa orang-orang Israel yang ada di tanah pembuangan (Babel) kembali ke tanah terjanji Israel. Tapi harapan ini tidak digambarkan sudah terjadi. Karena itu disimpulkan bahwa teks-teks itu ditulis sebelum tahun 539 SM, mungkin di Babylonia. Ada kemungkinan bahwa "Deutero-Yesaya“ bukanlah hasil tulisan seorang penulis tunggal, tetapi murid-murid sekolah para Nabi-lah yang berada di balik teks-teks ini.

Baca Juga: Ustad Abdul Somad, Dilarang Ceramah di Eropa dan Singapura Gegara Sebarkan Ajaran Ekstremise dan Perpecahan

Pasal 40 dibuka dengan pengharapan akan adanya eksodus baru, bahwa umat yang diasingkan di pembuangan dalam perjalanan panjang di tengah-tengah padang gurun untuk kembali ke Israel. Ayat 8 menegaskan: „… firman-Ku mengerjakan apa yang telah Kuputuskan…“ Yesaya 40:12-31 meneguhkan kuasa Allah terhadap orang-orang percaya yang kecil di antara umat-Nya.

Motif "keteguhan iman“ ini sering ditemui dalam Deutero-Yesaya, karena ada keraguan apakah Yahweh, dengan hilangnya Yerusalem dan Bait Suci, bisa membuktikan dirinya sebagai yang lebih berkuasa dari dewa-dewa Babel. Sebagai argumen tandingan, ide-ide penciptaan sering digunakan (bdk. Yes. 40:12,22). Yahweh bukan hanya Tuhan atas sejarah Israel, tetapi juga atas semua ciptaan.

Baca Juga: Jangan Cemas! Kamu akan berhasil Bahagia dan Sukses, Zodiak 27 November 2022

Dalam Deutero-Yesaya tujuan utama penulisnya adalah menegaskan bahwa dewa-dewa orang kafir bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa. Tapi itu hanyalah gambaran yang dibuat oleh para pengrajin (Yes. 41:6-7). Hal ini membuka jalan bagi penegasan monoteisme di pasal 44 (yang dipakai Daniel Mananta untuk menjadi dasar argumentatif untuk teori "unclean-spirit“-nya).

Baca Juga: Dua Pertanyaan untuk Gereja Katolik, Tanggapan atas 'Kasus Unclean Spirit' Daniel Mananta

Dalam tulisan ini, saya mencoba untuk mengikuti argumen Daniel Mananta dalam videonya di tiktok. Daniel mengambil teks Yesaya 44, 13-20 yang dijadikan dasar biblis utk mengeritik para "pemuja patung“. Daniel menganjurkan untuk membacanya, sebelum mengomentarinya. Saya akan mencoba memberi komentar singkat tentang teks ini.

Untuk dapat menjelaskan dan menganalisanya secara historis kritis, dianjurkan untuk secara khusus membaca ayat 6-20. Ayat 6-8 adalah pengantar yang menegaskan bahwa Yahweh adalah satu-satunya Tuhan: "Beginilah firman TUHAN , Raja dan Penebus Israel, TUHAN semesta alam“. Di sini Yahweh memaklumatkan siapa dirinya. Ia menegaskan bahwa: Akulah yang pertama, tidak ada Gunung-Batu yang lain, tidak ada KU-kenal. Dan Yahweh menegaskan : "Selain Aku tidak ada tuhan!“

Baca Juga: Romo Alfons Kolo: Ustad Abdul Somad dan Daniel Mananta Menista Agama Katolik

Halaman:

Editor: Ferdinandus Lalong

Tags

Terkini

X