• Jumat, 1 Juli 2022

Kades Cumbi dan Ketua BPD Diduga Gerakan Massa Serobot Tanah Milik Warga

- Senin, 16 Mei 2022 | 19:57 WIB
Ilustrasi (Foto: Net)
Ilustrasi (Foto: Net)

MANGGARAI | Kepala Desa Cumbi, Paulus Kantor bersama Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Cumbi, Hendrikus Tara diduga menggerakan massa dari tiga Gendang yakni Gendang Niang Mese, Gendang Cumbi dan Gendang Niang Golo.

Massa dari tiga Gendang itu diduga digerakan oleh Paulus Kantor untuk melakukan penyerobotan tanah milik Ambrosius Ndagu (90), warga Desa Cumbi, Kecamatan Ruteng, Kabupaten Manggarai, Minggu (11/4/2021) lalu.

Salah satu anak kandung dari Ambrosius, Yohanes Madun menjelaskan, saat dirinya bersama keluarga membersihkan tanah milik ayahnya Ambrosius, sekelompok warga dari tiga Gendang itu menghampiri mereka.

Baca Juga: Meski Kantongi BHT, Polres Manggarai Batalkan Laporan Ambrosius

Saat itu, kata Yohanes, sekelompok massa dari tiga Gendang tersebut mendatangi lokasi tanah itu dipimpin langsung oleh Kepala Desa Cumbi.

"Waktu itu, saat kami masih bekerja di Kebun tiba–tiba datang sekelompok massa yang dikoordinir oleh Kepala Desa. Kepala Desa paling depan temui kami, dia yang bawah meter. Ketua BPD juga ada saat itu. Ada masyarakat yang bernama Hanis Rarut usir kami sambil todong kami menggunakan parang, dia bilang itu bukan kami punya tanah," ujar Yohanes, Jumaat (13/5/2022) kemarin.

Karena takut dibunuh, Yohanes bersama beberapa anggota keluarga pun pergi meninggalkan lokasi yang diserobot tiga Gendang tersebut.

Sejak saat itu, lanjut Yohanes, pihaknya tidak lagi bekerja di tempat itu karena takut dibunuh.

Laporan Polisi Tidak Diproses

Kasus penyerotan tanah milik Ambrosius Ndagu oleh sekelompok massa dari tiga Gendang itu ternyata pernah di laporkan ke Pihak Kepolisian Resor (Polres) Manggarai.

Baca Juga: Warga Desa Cumbi Minta Bantuan, Pemda Manggarai Diduga Tak Gubris

Saat setelah dilaporkan, Pihak Polres malah tak mau proses lanjut atas laporan Ambrosius itu.

Pihak Polres Manggarai berpendapat, tanah Ambrosius yang diserobot oleh sekelompok massa dari tiga Gendang itu tidak dapat diproses karena Ambrosius tidak memiliki sertifikat kepemilikan.

Padahal, meski tak memiliki Sertifikat Kepemilikan, Ambrosius mengantongi putusan Pengadilan Ruteng nomor 16/PN.RUT/PDT/1978 tanggal 07 September 1978 yang dikuatkan dengan putusan Pengadilan Tinggi Kupang nomor 46/PTK/1979/PDT tanggal 28 April 1980. Putusan itu diperoleh Ambrosius saat memenangkan perkara atas tanah itu yang digugat oleh Hermanus Barus (alm) tahun 1978.

Ambrosius pun mengaku heran atas putusan pihak Polres Manggarai yang menolak laporannya itu.

"Menurut pihak Polres, BHT yang dikeluarkan Pengadilan bukan alat bukti. Kata mereka (Polres_red), alat bukti harus berupa sertifikat. Padahal sepengetahuan kami, BHT ini statusnya sama dan atau lebih tinggi dari Sertifikat," ujar Ambrosius.

Editor: Ignasius Tulus

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Lakalantas di Ruteng Dua Orang Meninggal Dunia

Minggu, 26 Juni 2022 | 21:43 WIB

Kasus Holywings Enam Orang jadi Tersangka

Minggu, 26 Juni 2022 | 17:33 WIB

Putin Hadir Forum BRICS, Ada Apa?

Kamis, 23 Juni 2022 | 17:33 WIB

Pemilik Senpi Ternyata Anggota Polri

Kamis, 23 Juni 2022 | 07:20 WIB
X