• Selasa, 16 Agustus 2022

Tinjauan Kasus Econ dan Yasin dalam Perspektif Perkawinan Adat Manggarai

- Senin, 4 Juli 2022 | 18:04 WIB
Toni Mbukut  (Ist )
Toni Mbukut (Ist )

 

 

Oleh: TONI MBUKUT*


Beberapa hari ini, kita dihebohkan oleh peristiwa Econ dan Yasin di dermaga Labuan Bajo. Berdasarkan video yang beredar, kita menyaksikan bagaimana Econ memperjuangkan cintanya, tetapi kandas karena si gadis lebih memilih anjuran keluarga untuk tidak melanjutkan rajutan asmaranya dengan Econ.

Netizen menanggapi peristiwa ini dengan celotehan lucu dan beberapa yang romantis. Namun setelah membaca kesaksian dari pihak keluarga perempuan, ternyata pihak keluarga sengaja melarang hubungan Econ dan Yasin karena alasan relasi kekeluargaan yang sudah terbentuk sebelumnya antara keluarga besar dari Econ dan si Yasin.

Keduanya sempat ingin menabrak tembok relasi itu, tetapi tetap tidak berdaya di hadapan tekanan keluarga besar. Katanya si Econ dari pihak anak rona dan si yasin dari pihak anak wina. Mengapa suara keluarga besar amat berpengaruh dalam relasi Econ dan Yasin? Berikut saya akan membuat tinjauan sederhana kasus ini dalam perspektif Perkawinan Adat Manggarai.

Perkawinan bagi orang manggarai adalah sebuah peristiwa sosial. Yang menikah bukan hanya 2 individu, tetapi dua keluarga besar. Sekalipun 2 individu sudah saling mencintai, tetapi status relasi 2 keluarga besar ada halangan, mereka tidak bisa menikah. Laki-laki tidak boleh dari keluarga anak rona, sebaliknya perempuan tdk boleh dari keluarga anak wina. Selamanya anak rona akan menjadi penyedia pihak perempuan dan anak wina menjadi penyedia pihak laki-laki.

Perkawinan sebaliknya disebut jurak. Sanksinya kepu munak atau kalau 2 individu tetap nekat, sanksi beratnya adalah ketek manuk miteng. Artinya kedua orang bersangkutan dibuang oleh keluarga besar dan dianggap bukan keluarga lagi. Kenapa sanksinya berat? Jawabanya rantang cuku nungang artinya supaya jangan terulang.

Perkawinan sebaliknya (laki-laki dari pihak anak rona dan perempuan dari pihak anak wina) disebut perkawinan jurak (la sala di bajawa). Jurak termasuk kategori dosa berat. Akibatnya adalah nangki tai itang diang. Nangki tidak hanya dialami oleh dua individu bersangkutan, tetapi juga oleh kedua keluarga besar dan bahkan oleh seluruh warga kampung.

Halaman:

Editor: Waldus Budiman

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Kepercayaan Baru di NTT, Kilat dari Timur

Jumat, 12 Agustus 2022 | 15:36 WIB

Ata Modo, Anak Muda Desa Komodo Jadi Kader Konservasi

Selasa, 9 Agustus 2022 | 18:50 WIB
X