• Jumat, 20 Mei 2022

Warga Desa Cumbi Minta Bantuan, Pemda Manggarai Diduga Tak Gubris

- Sabtu, 14 Mei 2022 | 07:55 WIB
Ambrosius dan keluarganya saat memberikan keterangan kepada Wartawan (Foto: Ignas Tulus)
Ambrosius dan keluarganya saat memberikan keterangan kepada Wartawan (Foto: Ignas Tulus)

MANGGARAI | Ambrosius Ndagu (90), pemilik tanah Lingko Tagol di Desa Cumbi, Kecamatan Ruteng, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT) sesalkan sikap Pemda Manggarai yang seakan diam dan tidak peduli atas persoalan tanah miliknya yang belakangan diserobot oleh sekelompok orang.

Tanah tersebut pernah diperkarakan perdata pada tahun 1978. Saat itu, berdasarkan putusan Pengadilan Negeri Ruteng, pihak penggugat yakni Hermanus Barus (alm) dinyatakan kalah dan dirinya (Ambrosius_red) dinyatakan menang.

Kemenangan atas perkara itu telah dituangkan dalam surat Keputusan Pengadilan Negeri Ruteng nomor 16/PN/RUT/PDT/1978 tertanggal 7 September 1978. Terhadap putusan Pengadilan Negeri Ruteng tersebut, Hermanus selaku penguggat mengajukan permohonan banding ke Pengadilan Tinggi Kupang dengan register perkara nomor 46/PTK/1979/PDT.

Permohonan banding tersebut diputuskan pada 28 April 1980. Dalam amar putusannya, Pengadilan Tinggi Kupang menguatkan putusan Pengadilan Negeri Ruteng.

Baca Juga: Politisi PDIP Minta Pemda Matim Hentikan Polemik TPU Tanah Ragok

Baca Juga: Pemalsuan Dokumen Tanah, Camat Boleng Dituntut 6 Tahun Penjara

Kepada wartawan, Ambrosius menjelaskan, karena dirinya tetap dinyatakan menang berdasarkan Putusan Pengadilan Negeri Ruteng yang dikuatkan dengan putusan Pengadilan Tinggi Kupang, Ia melakukan aktifitas seperti biasa setelah dikeluarkan amar putusan tersebut hingga saat ini di tanah seluas kurang lebih empat hektare tersebut.

Namun, kata Ambrosius, belakangan muncul lagi pihak lain yang melakukan penyerobotan atas tanah yang dulu pernah disengketakan itu. Ambrosius mengaku, keluarganya pernah diancam oleh sekelompok orang itu saat masih melakukan aktifitas di tanah tersebut, Minggu (11/4/2021).

"Mereka (penyerobot_red) bawa parang dan menujuk parang dimuka saat anak saya masih membersihkan tanah itu. Mereka suruh pulang. Karena takut dibunuh anak saya pulang dari lokasi," kata Ambrosius.

Karena merasa terancam, kata Ambrosius, Ia pun menyurati pihak Pengadilan Negeri Ruteng untuk minta penjelasan terkait amar putusan yang dikeluarkan tahun 1973. Selain melalui surat, Ambrosius juga mengutus anak untuk konsultasi langsung ke Kantor Pengadilan Negeri Ruteng terkait amar putusan tersebut.

Baca Juga: Tanah Kuburan Diklaim Pemda Matim, Tokoh Adat Heran

Disampaikan Ambrosius, dari Kantor Pengadilan Negeri Ruteng pihak keluarga mendapat surat rujukan untuk bertemu Pemda Manggarai agar melalui Pemda Manggarai, amar putusan tahun 1973 bisa disosialisasikan hingga ke tingkat Desa dan masyarakat setempat.

Ambrosius menyebutkan, atas dasar itu, pihak keluarga bergegas ke Kantor Bupati Manggarai dengan membawa ayam untuk meminta bantuan Manggarai. Setiba di Kantor Bupati, kata Ambrosius, pihak keluarga bertemu dengan Wakil Bupati Manggarai, Heribertus Ngabut.

"Di Depan Wakil Bupati dan pejabat di lingkup Pemerintah Manggarai kami sebagai keluarga menceritakan kronologi yang terjadi dan sekaligus meminta bantuan perlindungan dan sosialisasi amar putusan dimaksud kepada Pemerintah Desa dan oknum penyerobotan dan warga desa cumbi terkait status tanah tersebut. Karena kami sendiri tidak berani karena pihak sebelah sering bawa parang untuk ancam–ancam kami. Saat itu, wakil Bupati janji untuk datang ke lokasi, namun sampai sekarang belum datang. Tanah kami terus dikerjakan oleh pihak penyerobotan hingga saat ini," tambah Ambrosius.

Kata Ambrosius, belakangan ini keluarganya merasa tidak nyaman karena sering diancam oleh pihak penyerobot. Keluarganya pun kini tidak bisa beraktifitas lancar sebagaimana sebelum adanya pihak penyerobotan itu.

"Kami butuh bantuan pemerintah untuk mensosialisasi sekaligus mendampingi kami saat pasang plang di tanah kami agar pihak penyerobotan paham status hukum atas kepemilikan tanah tersebut. Itu tanah kami berdasarkan keputusan Pengadilan," tutup Ambrosius.

Editor: Ignasius Tulus

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X