CERMIN_Cerpen Afrianna

- Sabtu, 5 November 2022 | 07:33 WIB
Wanita dan Cermin (Pixabay)
Wanita dan Cermin (Pixabay)

HIBURAN - Malam menggema. Langit-langit Kota nampaknya ikut bercerita. Tak ada hujan, tak ada angin hanya saja sedikit dingin yang disuguhkan semesta.

Sulastri gadis 18 Tahun yang sudah terbiasa hidup dengan kemewahan berjalan pada lorong-lorong kecil menyaksikan salah satu wanita yang sedang di siksa oleh suaminya. Sulastri kaget menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan sebab tak kuat melihat tetesan darah yang keluar dari wajah itu. Di tempat kedua ia melihat bagaimana perempuan dipaksa untuk menelanjangi badan siap untuk menjadi santapan lelaki biadap. Sebelumnya ia harus disiksa, ditampar pipinya ditarik rambutnya, ditarik paksa, dilemparkan di ranjang lalu. Di tempat ketiga ia menyaksikan perempuan hamil menangis karena tak dapat makanan dan minuman juga tak punya suami atau keluarga. 

" Ah tidak. Tidakk. Tidak."

Baca Juga: Tidak hanya Menjalankan Hubungan, Beberapa Hal Ini Juga Perlu Diperhatikan Bersama Pasangan Anda

Sulastri berteriak, ia menangis berlari, dengan tergesa-gesa, ia takut, ia trauma, mengapa harus tapi aneh tak didapatinya rumahnya. Serasa segalanya menghilang dalam waktu sekejab tanpa penyebab.

Ia terus berlari. Mencari rumah, mencari kedua orang tua, mencari keluarga tetapi tak kunjung ia dapatkan. Ia terus dihantui oleh orang-orang yang ia jumpai tadi di lorong. Rasanya langit ikut menjadi gelap hanya ada sedikit cahaya dan orang-orang tersebut semakin dekat dengan wajah yang lebih menakutkan. Ia menutup kedua mata menutup kedua telinga dengan dengan telapak-telapak tangannya. Ia semakin takut ia gemetar tiba-tiba.....

Baca Juga: Wajib Tahu! Ternyata Mimpi Hamil akan Mendatangkan Rezeki yang Berlimpah

Ada pecahan Kaca dan ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya tetapi, ada sosok yang menarik kasar badannya membawa ia pada sebuah ruangan menunjukkan padanya sebuah cermin besar. Ia menatap dan melihat ada wajahnya sendiri pada cermin, penuh dengan air mata. Ia menunduk lalu menyadari betapa pentingnya tubuh. Betapa sakit jika disiksa dan tubuh juga akan menangis bila tak dihargai.

Baca Juga: NOVENA DI SURAU

Halaman:

Editor: Yon Sahaja

Tags

Terkini

Pulang Kampung dan Puisi Lainnya

Selasa, 10 Januari 2023 | 17:35 WIB

Claudia dan Amore Sincero

Rabu, 21 Desember 2022 | 18:55 WIB

Puisi-puisi Indra Gamur, Tanpa Aba-aba

Sabtu, 17 Desember 2022 | 21:47 WIB

Puisi-puisi Andju Haman, Penyairku Sedang Gundah

Sabtu, 17 Desember 2022 | 20:29 WIB

Halaman Rumput Masa Depan

Selasa, 13 Desember 2022 | 05:43 WIB

Di Rumah Impianmu Saya Menunggu dan Menulis Puisi

Selasa, 13 Desember 2022 | 05:32 WIB

30 Tahun Berlalu, Mengenang Bencana di Flores

Senin, 12 Desember 2022 | 11:38 WIB

Pada Tumpukan Kitab Tuhan Aku Meminta Restu

Minggu, 4 Desember 2022 | 14:48 WIB

Malam Terakhir

Selasa, 29 November 2022 | 13:36 WIB

Kaka Brasil, Kalau Ade Dukung Siapa?

Kamis, 24 November 2022 | 20:21 WIB

Gadis Desa, Aku Jatuh Cinta

Rabu, 23 November 2022 | 15:07 WIB

Ingat Ema, Puisi-puisi Hendra Uran

Senin, 21 November 2022 | 08:51 WIB

Nona dari Watohari

Minggu, 20 November 2022 | 20:27 WIB

Puisi-puisi Onsi GN

Sabtu, 19 November 2022 | 20:45 WIB

Surga yang Singgah di Kapela

Sabtu, 19 November 2022 | 20:00 WIB

Gadis Berprestasi

Minggu, 13 November 2022 | 20:32 WIB

Puisi-puisi Kasianus Roin, Dia yang pernah ada

Rabu, 9 November 2022 | 20:00 WIB

Ibu, Siapa? - Puisi-puisi Kandy No

Selasa, 8 November 2022 | 07:37 WIB
X