• Kamis, 6 Oktober 2022

Jeda - Maria Cey

- Senin, 8 Agustus 2022 | 21:42 WIB
cey (Dok.Pri)
cey (Dok.Pri)

Jeda

Malam begitu hening, sepi.
Binatang malam enggan bersua.
Bahkan penghias langit seolah bersembunyi entah pada tirai mana.
Hanya hembusan angin malam yang sengaja menyuarakan tanda kehadirannya lewat sapaannya pada daun-daun hijau ditaman tempat duduk dua anak manusia yang bungkam menyimpan kata dan masing-masing enggan atau terlalu kaku bicara.
Adam dan Airy sepasang kekasih yang nampaknya sedang mengalami gemuruh pada hubungan yang terjalin bertahun-tahun lamanya.
“Apakah kau benar ingin pergi?” suara pembuka kebisuan dari adam meredekan ketegangan hening yang sedari tadi merajai suasana.

Baca Juga: Minggu Pagi, Puisi-puisi Risto Jomang

Baca Juga: Undangan Menulis Buku Ber-ISBN, Gratis!! Karya Pasti Dibukukan Tanpa Pungutan Biaya!

“Ini yang terbaik!” jawab Airy dengan suara setengah menahan sesak.

“Yang terbaik? Melumpuhkan setiap harapan yang pernah kita bangun bersama, menghancurkan mimpi yang belum sempat kita wujudkan, dan melepas kenangan yang kau sendiri tahu bukan sesuatu yang mudah dilakukan? Itu yang kau bilang terbaik???” Kali ini dengan nada yang penuh dengan kemarahan adam menyuarakan Tanya yang masing-masing tak punya jawab baik tuk diucap.

“Kita tidak bisa memaksakan apa yang sudah tidak bisa dipertahankan. Kita akhiri sebelum semua sampai pada kata terlambat” jawab airy dengan tenang tanpa berani menatap Adam, terlihat jauh dimatanya airy menahan tangis yang sedari tadi membendung hatinya.

Hening...
Tatapan adam yang terus terarah pada Airy kini terlihat begitu hancur menyelip luka akibat kata-kata Airy yang seolah menjadi cambuk baginya malam itu.

“Apakah bertahan denganku adalah karena keterpaksaan, Airy?” tanya adam dengan suara yang seolah sedang menelan racun yang sebentar lagi hendak memakan habis jiwa dan raganya.
“Aku tetap mencintaimu,” jawab airy serentak dengan tetesan airmata yang tak sanggup lagi bersembunyi dikelopak matanya.
Tanpa jawaban, hanya senyum kehancuran yang terukir pada bibir adam, Ia melangkah pergi meninggalkan Airy.

Halaman:

Editor: Yon Sahaja

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Sungguh_Antalogi Puisi Arnolda Elan

Selasa, 4 Oktober 2022 | 22:16 WIB

DI TAMAN DOA_Puisi-puisi Afrianna

Minggu, 25 September 2022 | 11:54 WIB

Di Ruang Pengakuan_Puisi-puisi Afrianna

Sabtu, 24 September 2022 | 11:00 WIB

Ada Waktunya_Puisi Henok Mere

Jumat, 23 September 2022 | 20:40 WIB

Bijaknya Si Gila_Antalogi Puisi Ito Benggu

Rabu, 21 September 2022 | 15:03 WIB

Teruntuk Dia Yang Sudah Memeluk Surga_Puisi Nonit Theresa

Selasa, 20 September 2022 | 20:00 WIB

Jangan Seperti Daun yang Jatuh_Antalogi Puisi Afrianna

Minggu, 18 September 2022 | 15:12 WIB

PAMIT _ sebuah cerpen di tulis oleh Afrianna

Minggu, 18 September 2022 | 14:40 WIB

Salah Kita; Sebuah Puisi ^Catatan di Ujung Pena^

Rabu, 7 September 2022 | 20:59 WIB

apakah kamu hendak menamakan buku ini buku puisi?

Selasa, 6 September 2022 | 21:11 WIB

Surat Cinta Untuk Nana di Biara_Puisi

Minggu, 4 September 2022 | 10:41 WIB

ASA YANG TERJAWAB, Kumpulan Puisi Albertus Mandur

Sabtu, 3 September 2022 | 18:39 WIB

Perempuan dan Puisi_ Antalogi Puisi Afrianna

Kamis, 1 September 2022 | 19:59 WIB

Jalan Pulang dan Puisi Lainnya

Kamis, 1 September 2022 | 17:58 WIB

Luka Yang Kusuka_Antologi Puisi Afrianna

Kamis, 25 Agustus 2022 | 19:21 WIB
X