• Selasa, 16 Agustus 2022

Enu dan Nana yang Berjubah

- Minggu, 3 Juli 2022 | 11:04 WIB
Salah satu adegan dalam film Cinta Untuk-Nya karya Didik Sudarsana
Salah satu adegan dalam film Cinta Untuk-Nya karya Didik Sudarsana

Catatan di Ujung Pena

Pada Minggu waktu itu. Pagi-pagi buta suara ayam berkokok membangunkan dirinya yang sedang berkencan dengan mimpi asmara. Suara lonceng Gereja berdentang membangkitkan gelora hati untuk melangkahkan Kaki. Dengan pelan Ia bangkit lalu mendaraskan doa pagi di kamarnya yang sepi dan bersiap diri untuk ke Gereja.
Namanya Ewin, seorang Frater ganteng yang sedang melaksanakan live in di Paroki.

Berperawakan tinggi, kulitnya yang putih dan hidungnya yang mancung sangat cocok dengan sifat keramahtamahan.
Hari Minggu kali ini berbeda dengan hari minggu yang lainnya. Selain karena kejadian semalam juga karena hari itu adalah saat-saat terakhir ia melaksanakan kegiatan live in dan Minggu depan ia harus kembali lagi ke komunitasnya di Kota.

Sudah siap tinggal jalan, tiba-tiba bahunya ditepuk oleh tangan seseorang.
"Hallo Nana" Sapa suara itu.
"Hallo Mama" balasnya. Ternyata yang menepuk bahunya adalah Maci.
Maci adalah singkatan dari Mama Cing.

Maci telah lama bertugas di Paroki, untuk membantu Pastor dalam hal memasak, dan baru kali ini ia akan merasakan bagaimana pahitnya kehilangan sebab Ewin sudah dianggapnya sebagai anaknya sendiri, tiga bulan rasanya berat.
Ia hampir saja menangis tetapi karena Ia takut jika Ewin ikutan menangis maka berusaha menahan air matanya meski akhirnya ia menangis juga.

Ia dengan penuh kasih memeluk Ewin sambil mengucapkan kata Terima Kasih dan Maaf.
"Nana e, Terima Kasih banyak e. Maci bahagia sekali karena Nana sudah bersedia membantu Maci di sini. Ini ada sedikit yang Maci punya, pokoknya Nana bawa ini sebagai bekal. Ingat e, Jangan lupa nanti libur kesini lagi" sambil menyodorkan amplop kecil untuknya. Ia tidak bisa menjawab tetapi hanya bisa menangis dan mengucapkan."

"Ma. Terima Kasih".

Gereja sudah mulai ramai. Banyak orang yang datang berdoa dan juga karena hari ini adalah hari perpisahan bersama Frater Ewin. Ia berjalan bersama Maci ke Gereja.

Misa dimulai dengan begitu meriah, lalu berakhir dengan haru. Frater Ewin diminta untuk mengucapkan kata-kata singkat sebelum ia meninggalkan Paroki. Awalnya ada banyak yang tertawa karena lawakan Frater, tetapi perlahan suasana menjadi hening.
Tidak ada suara dan hanya ada air mata. Umat Paroki sangat menyayangi Frater Ewin.

Halaman:

Editor: Waldus Budiman

Artikel Terkait

Terkini

Jeda - Maria Cey

Senin, 8 Agustus 2022 | 21:42 WIB

Minggu Pagi, Puisi-puisi Risto Jomang

Minggu, 7 Agustus 2022 | 09:53 WIB

Sajak Rindu, Puisi-puisi Ocha Alexandra

Jumat, 5 Agustus 2022 | 10:33 WIB

Secangkir Kopi Untuk Tuhan

Kamis, 4 Agustus 2022 | 10:41 WIB

Nyanyian Kematian_Cerpen Nino Eni

Rabu, 3 Agustus 2022 | 10:52 WIB

Bagaimana Luka Bisa Dieja?

Rabu, 3 Agustus 2022 | 09:58 WIB

Perihal Pastor Tua dan Mimbar Kesayangannya

Senin, 1 Agustus 2022 | 17:22 WIB

Perempuan yang Harus Pergi Malam Ini

Jumat, 29 Juli 2022 | 23:37 WIB

Hamil di Luar Nikah: Bukan Kutuk tetapi Berkat

Jumat, 29 Juli 2022 | 12:03 WIB

Ibu, Sebuah Puisi

Rabu, 27 Juli 2022 | 09:45 WIB

Jangan Jadi Aku

Selasa, 26 Juli 2022 | 19:56 WIB

Setia yang Terluka: Ini Puisi, Bukan Curhat

Selasa, 26 Juli 2022 | 07:14 WIB

Puisi-puisi Ocha Alexandra

Sabtu, 23 Juli 2022 | 20:39 WIB

Puisi-puisi Catatan Ujung Pena

Sabtu, 23 Juli 2022 | 19:20 WIB
X