• Selasa, 5 Juli 2022

Surat Cinta untuk Aisya

- Minggu, 19 Juni 2022 | 18:34 WIB
Surat cinta  (Ilustrasi )
Surat cinta (Ilustrasi )

Oleh: RISTO JOMANG *

Cinta kita tak pernah salah Aisya. Tuhan menciptakan hati yang terbuka bagi siapa saja. Hati yang mungkin untuk dimasuki oleh siapa saja, dan memasuki ruang hati siapa saja. Tak pandang agama. Tak pandang suku. Tak pandang ras. Tak pandang fisik. Sebab cinta jauh lebih suci dari segala ukuran yang diciptakan manusia. Termasuk cinta kita, Aisya.

Malam ini adalah malam keramat itu. Malam yang pernah kuceritakan padamu dulu saat kita bertemu di pasar malam. Kala itu Ruteng, kota kecil kita, masih menyisihkan tempat untuk remaja seperti kita. Yah, paling kurang pasar malam itu saat paling lapang untuk sekian banyak jumpa kita. Aku masih ingat kata-katamu kala itu, kata-kata yang dibalut air mata. Er, tentu pilihanmu adalah apa yang terbaik untuk hidupmu dan untuk hidupku, yah hidup kita. Yah, malam ini aku akan menentukan akan bagaimana cerita kita mulai esok, Aisya. Entahkah kita masih menjalani kisah yang sama, ataukah harus dibuka kisah baru.

Tentu kamu masih ingat saat pertama kita berjumpa. Aku masih sebagai seorang seminaris  kelas 2 SMA, sedangkan kamu masih sebagai murid kelas 2 di sebuah Madrasah Aliyah. Pertemuan kita bukanlah suatu kebetulan, bukan? Sebab aku punya keyakinan bahwa setiap pertemuan selalu menyimpan makna khusus di baliknya.

Awalnya kita duduk di bangku yang sama, sama-sama memandang langit Ruteng yang tampak menawan. Langit yang jernih dan taburan bintang yang memesona. Kamu tampak sangat cantik dalam balutan jilbab itu. Entah mengapa, pesonamu membiusku malam itu. Jujur, mataku selalu tertuju padamu ketika kamu tersenyum memandang langit. Malam itu, sesaat sebelum aku beranikan diri untuk berkenalan, aku sudah jatuh cinta padamu, Aisya.

“Langit Ruteng selalu mampu membuatku jatuh cinta berulang kali pada bintang-bintang nun jauh di sana,” ucapmu.

Pikirku kamu sedang berbicara padaku, ternyata kamu berbicara pada dirimu sendiri. Ketika menyadari perasaanku, sungguh aku bergulat dengan itu. Seorang seminaris jatuh cinta dengan seorang gadis muslim. Aneh rasanya. Aku berusaha menolak rasa itu. Sebab pikirku itu rasa yang tak pantas. Perasaan yang pada akhirnya melukai diriku sendiri karena rasanya tak mungkin aku bisa mengungkapkannya padamu. Namun, tak ada salahnya juga jika aku harus mencobanya kan?

“Malam Ruteng menyimpan rahasia untuk kita. Aku selalu jatuh cinta pada malam, bintang, dan rahasia,” kataku sambil menatap ke langit.

Itu langkah awal yang kupilih agar bisa berkenalan denganmu. Ternyata ampuh. Kamu menoleh ke arahku sambil tersenyum. Ahh, sungguh senyummu sangat memukau.

Halaman:

Editor: Waldus Budiman

Artikel Terkait

Terkini

Selepas Jubah Kau Menjadi Luka

Minggu, 3 Juli 2022 | 19:19 WIB

Enu dan Nana yang Berjubah

Minggu, 3 Juli 2022 | 11:04 WIB

Perempuan yang Terluka Berkalung Beban

Sabtu, 2 Juli 2022 | 14:13 WIB

Tentang Mama Tak Pernah Usai dan Selesai

Jumat, 1 Juli 2022 | 11:03 WIB

Eloi, Puisi-puisi Arnoldus Aliando

Senin, 27 Juni 2022 | 20:33 WIB

Pada Lukamu yang Sunyi

Senin, 27 Juni 2022 | 12:44 WIB

Air Mata Mama, Catatan di Ujung Pena

Minggu, 26 Juni 2022 | 18:27 WIB

Menemukanmu setelah Perayaan Ekaristi

Minggu, 26 Juni 2022 | 09:35 WIB

Kisah Rani

Sabtu, 25 Juni 2022 | 14:52 WIB

Air Mata Mama, Catatan di Ujung Pena

Rabu, 22 Juni 2022 | 18:01 WIB

Berkat Doa Ibu

Rabu, 22 Juni 2022 | 13:54 WIB

Gadis Kota Dingin

Senin, 20 Juni 2022 | 22:26 WIB

Doa Seorang Pelacur, Catatan di Ujung Pena

Senin, 20 Juni 2022 | 19:33 WIB

Surat Cinta untuk Aisya

Minggu, 19 Juni 2022 | 18:34 WIB

Hilangnya Mendung di Langit Rumah

Minggu, 19 Juni 2022 | 15:21 WIB

Perempuan yang Menangis dalam Tubuh Pastor Pedro

Sabtu, 18 Juni 2022 | 22:22 WIB

Buku, Puisi-puisi Helena Deci

Senin, 30 Mei 2022 | 09:22 WIB

Mimpi Kenyataan yang Tertunda

Rabu, 25 Mei 2022 | 08:41 WIB
X